Label

Sabtu, 02 April 2011

(In ) ConSistenCy

Begini nih, saya punya satu kalimat yang sebaiknya anda ingat selamanya. Tidak ada manusia yang konsisten.
Lho kok bisa? Lah iya, konsisten kan berarti selalu sama, tidak berubah, tidak berbeda, dari waktu ke waktu hanya begitu saja. Kalau manusia terus menerus sama saja dari waktu ke waktu yang ada manusia tersebut jadi patung, tidak ada kemajuan dan proses lebih lanjut, lalu buat apa hidup. Contoh :
Tersebutlah ada sebuah percakapan dari dua orang manusia jenius pun berbudi luhur.
Adi : “Manusia itu tidak ada yang konsisten.
Budi : “Hmm, tetapi ada beberapa orang di dunia ini yang dengan tekad bulat sanggup melakukan hal - hal yang sama dengan semangat yang sama dari awal dimulai sampai akhir hayatnya. Tidakkah hal itu menjadikan orang - orang tersebut konsisten?"
Adi : "Oh iya ya, benar juga katamu, berarti manusia bisa konsisten juga."
Budi : "Nah berarti kata - katamu di awal tadi memang benar."
Adi : "Lho kenapa?"
Budi : "Iya, tadi kamu bilang 'Manusia itu tidak ada yang konsisten', nah barusan kamu bilang lagi 'manusia bisa konsisten juga'."
Adi : "Nah terus kenapa? Ada yang salah?"
Budi : "Ya berarti kamu sudah tidak konsisten karena sudah berubah pendapat, bahkan belum ada 5 menit yang lalu."
Adi : "Oh iya ya, hahaha.."
Dari perbacotan di atas sudah bisa diketahui bahwa memang manusia itu tidak konsisten, berarti manusia suka berubah - ubah, itu alamiah. ( Note : Kecuali kalo ada alasan khusus bagi manusia itu untuk konsisten ( Note di dalam note : Hmm, seperti misalnya : cinta pada pasangan, mungkin itu bisa membuat seseorang memilih untuk konsisten; tetapi hanya dalam beberapa hal, bukan keseluruhan ).
Yang dimaksud dengan konsisten di sini adalah secara keseluruhan, artinya apakah sang manusia konsisten dari awal ia hidup sampai akhir hayat, saya kira tidak. Jika ia telah hidup 30 tahun, terbukti konsisten hanya dari 20 sampai 30 tahun, maka ia secara keseluruhan hidupnya adalah tidak konsisten, karena ada masa dari 0 tahun sampai 19 tahun ia tidak konsisten.
Lagi - lagi tidak lepas dari relativitas, konsisten tidak selalunya bersanding dengan kebaikan, malaikat, terang, positif, dan lain - lain yang bernilai lebih atau priori. Sementara inkonsisten tidak selamanya bersanding dengan keburukan, iblis, gelap, negatif, dan lain - lain yang bernilai kurang atau apriori. 
Setujukah anda jika saya mengatakan bahwa orang yang konsisten terus menerus selama hidupnya sama saja dengan robot? yang dilakukannya hanya yang itu - itu saja, tidak ada tantangan, tidak ada eksplorasi akan hal - hal baru, tidak ada perenungan, tidak ada pembelajaran, tidak ada dinamika, tidak ada hidup di dalam dirinya.
Sementara lihatlah orang yang tidak konsisten dalam hidupnya, mereka itu pengelana, mereka itu pengembara, mereka itu menguasai dunia ini, mereka itu tahu seluk beluk bumi melalui pengalaman mereka bergerak dan bereksplorasi, mereka penuh ekspresi, terkadang sedih, kadang gembira, kadang nangis, kadang tertawa, dan satu hal yang paling utama, mereka itu unpredictable, unexpected, tak tertebak, tak terduga. Tidak ada hipotesis "Pasti bakal begini" yang tepat buat mereka, pasti meleset.
Ada satu hal lagi mengenai konsisten dan tidak konsisten ini, sesuatu yang mungkin bisa dikatakan sebagai paradoks ( KBBI : pa.ra.doks [n] pernyataan yg seolah-olah bertentangan (berlawanan) dng pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks ). Contoh :
Alkisah tersebut lah ada sebuah perbacotan oleh dua anak manusia.
Pispot : "Siang ini aku mau makan nasi goreng pake telor dadar."
Baskom : "Oke, mau makan di rumah makan yang mana?"
Pispot : "Yang di depan kampus aja."
Baskom : "Oh ok yuk berangkat."
Saat tiba di tempat yang dituju.
Pispot : "Eh eh Bas, kita makan di tempat laen aja yuk, dipikir - pikir makan di sini udah sering, pengen nyoba tempat laen."
Baskom : "Weleh, ya udah ayo, mau ke mana?"
Pispot : "Yang di pertigaan aja gimana?"
Baskom : "Oke oke ayo."
Saat tiba di tempat yang dituju. ( Note : ketebak ya apa yang terjadi selanjutnya, berarti saya orang yang konsisten ya? ah relatif, hehe, lagipula ini kan demi pemahaman anda - anda sekalian )
Pispot : "Ah Bas, gue jadi kepengen makan ketoprak aja nih, gue baru inget kemaren temen gue bilang, makanan di sini tuh kurang enak, lagian porsinya dikit. Kita coba cari ketoprak aja yuk."
Baskom : "Ah elah, gue udah laper ini Pis... Buruan dah maunya makan di mana.."
Pispot : "Iya - iya ini kita cari ketoprak aja, murah dan enaaak."
Nah si Pispot ini tiap hari begitu terus kelakuannya, menjijikkan banget dah itu Pispot. Kelihatan banget kan inkonsistensi-nya. Bentar - bentar berubah, bentar lagi berubah lagi, wah parah. Tapi ada paradoks di sini, kalau anda jeli dari awal udah ketahuan.
Pispot -->>> tidak konsisten -->>> setiap hari ( secara terus menerus, alias tingkah lakunya tidak berubah - ubah )
Secara gamblang dapat dilihat bahwa si Pispot adalah orang yang tidak konsisten, karena suka berubah - ubah. Tetapi paradoks-nya adalah si Pispot juga adalah orang yang konsisten, lah kenapa bisa? Lihat keterangan cerita, bahwa si Pispot bertingkah seperti itu terus menerus tanpa berubah setiap hari, berarti ia konsisten, konsisten terhadap inkonsistensi-nya. Jadi ibarat hukum sebab akibat, dapat disimpulkan bahwa, semakin sering seseorang tidak konsisten, maka ia akan semakin mendekati konsistensi. 


Dan ingat, tidak selalunya konsisten itu baik, tidak selamanya juga inkonsistensi itu buruk. Dalam beberapa hal manusia perlu konsistensi, tetapi dalam dinamika kehidupan janganlah konsisten, karena jalan hidup yang tidak konsisten adalah perjalanan hidup yang 
berwarna :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar